Hari Jadi Surabaya 31 Mei. Setiap tanggal 31 Mei, langit di atas Kota Pahlawan biasanya dipenuhi dengan semarak perayaan, festival budaya, hingga pawai bunga yang megah. Warga Surabaya bersatu merayakan hari lahir kota tercinta.
Namun, tahukah Anda bahwa penetapan tanggal tersebut bukan sekadar angka acak? Di balik tanggal 31 Mei, tersimpan kisah kepahlawanan, kecerdikan strategi perang, dan kemenangan telak atas kekuatan militer paling ditakuti di dunia pada masanya: Pasukan Mongol.
Sejarah Hari Jadi Surabaya adalah narasi tentang perlawanan terhadap kolonialisme kuno dan pengukuhan kedaulatan nusantara. Memasuki tahun 2026, pemahaman akan nilai-nilai sejarah ini menjadi semakin penting untuk memperkuat jati diri warga kota dalam menghadapi era globalisasi.
Mari kita telusuri lorong waktu menuju tahun 1293, saat muara sungai Kalimas menjadi saksi bisu kehancuran armada raksasa dari Utara.

Latar Belakang: Ambis Kubilai Khan dan Penghinaan terhadap Singasari
Kisah ini bermula jauh sebelum nama Surabaya dikenal secara administratif. Pada akhir abad ke-13, Kekaisaran Mongol di bawah pimpinan Kubilai Khan sedang berada di puncak kejayaannya. Setelah menaklukkan daratan Tiongkok, mereka mengalihkan pandangan ke wilayah Selatan, termasuk Nusantara.
Kubilai Khan mengirim utusan bernama Meng Chi ke Kerajaan Singasari pada tahun 1289 untuk menuntut upeti dan pengakuan kedaulatan. Namun, Raja Kertanegara yang memimpin Singasari saat itu adalah seorang penguasa yang bangga. Alih-alih tunduk, Kertanegara melukai wajah utusan tersebut dan mengusirnya kembali ke Tiongkok. Penghinaan ini memicu amarah besar Kubilai Khan, yang kemudian menyiapkan ribuan kapal dan puluhan ribu prajurit tangguh untuk menghukum Kertanegara.
Kekacauan di Jawa: Runtuhnya Singasari dan Siasat Raden Wijaya
Ironisnya, saat armada Mongol sedang berlayar menuju Jawa, Kerajaan Singasari telah runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kediri. Kertanegara tewas, dan menantunya, Raden Wijaya, melarikan diri ke hutan Tarik (yang nantinya menjadi cikal bakal Majapahit).
Ketika pasukan Mongol mendarat di muara sungai yang kini dikenal sebagai kawasan Surabaya pada awal tahun 1293, mereka menemukan musuh yang mereka cari (Kertanegara) sudah tiada. Di sinilah kecerdikan Raden Wijaya bermain. Ia berpura-pura tunduk pada pasukan Mongol dan mengajak mereka bekerja sama untuk menghancurkan Jayakatwang di Kediri, dengan janji akan menyerahkan diri sepenuhnya setelah kemenangan diraih.
Pasukan Mongol yang haus kemenangan menyetujui tawaran tersebut. Gabungan pasukan Mongol dan pasukan Raden Wijaya berhasil memukul mundur Jayakatwang dalam sebuah pertempuran sengit. Namun, Raden Wijaya sama sekali tidak berniat menyerahkan Jawa kepada bangsa asing.
Pertempuran 31 Mei 1293: Perlawanan di Muara Kalimas
Setelah Jayakatwang kalah, pasukan Mongol mengadakan pesta kemenangan besar-besaran di markas mereka yang terletak di sekitar muara sungai Kalimas dan pesisir Surabaya. Mereka berada dalam kondisi lengah, mabuk kemenangan, dan tidak waspada.
Pada tanggal 31 Mei 1293, Raden Wijaya melancarkan serangan balik yang tak terduga. Ia memimpin pasukannya untuk menyerbu kamp pasukan Mongol secara mendadak. Pasukan Mongol yang terjepit di antara hutan dan sungai tidak mampu melakukan formasi tempur yang efektif. Terjadi pertempuran berdarah di sepanjang tepi sungai.
Kecerdikan prajurit nusantara dalam memanfaatkan medan hutan dan sungai membuat pasukan Mongol kocar-kacir. Ribuan prajurit Mongol tewas, dan sisanya terpaksa lari kembali ke kapal-kapal mereka untuk segera angkat kaki dari tanah Jawa. Tanggal kemenangan inilah yang kemudian diabadikan sebagai hari lahirnya kota Surabaya, karena di wilayah inilah konfrontasi terakhir dan pengusiran pasukan asing itu terjadi secara masif.
Mengapa Tanggal 31 Mei Dipilih?
Pilihan tanggal 31 Mei sebagai Hari Jadi Surabaya memiliki sejarah administratif tersendiri. Pada masa kolonial Belanda, hari jadi Surabaya dirayakan berdasarkan berdirinya pemerintahan kota kolonial (Stadsgemeente) pada 1 April 1906. Namun, setelah kemerdekaan, para sejarawan dan tokoh masyarakat Surabaya merasa bahwa identitas kota tidak boleh berpijak pada warisan kolonial.
Melalui penelitian mendalam yang dilakukan oleh tim sejarawan pada tahun 1970-an, ditemukanlah catatan mengenai peristiwa pengusiran pasukan Mongol ini. Pada tanggal 1 Maret 1975, melalui Keputusan Walikota Madya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, ditetapkanlah tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi yang sah. Alasannya jelas: peristiwa tersebut melambangkan semangat heroisme, kemerdekaan, dan keberanian yang menjadi cikal bakal sebutan “Kota Pahlawan”.
Makna Simbolis: Surabaya dan Sungai Kalimas
Sungai Kalimas bukan sekadar aliran air bagi Surabaya. Ia adalah urat nadi sejarah. Di sungai inilah pasukan Mongol masuk, dan di sungai ini pula mereka terusir. Nama “Surabaya” sendiri sering dikaitkan dengan legenda pertarungan antara Sura (Ikan Hiu) dan Baya (Buaya).
Namun secara historis, kemenangan atas Mongol ini memberikan interpretasi baru: Sura melambangkan pasukan Mongol yang datang dari laut, dan Baya melambangkan pasukan lokal yang bertahan di daratan. Pertempuran keduanya menghasilkan kedamaian dan kedaulatan setelah pasukan laut terusir kembali ke asalnya.

Perayaan Hari Jadi Surabaya di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, perayaan Hari Jadi Surabaya (HJS) telah berkembang menjadi salah satu event pariwisata internasional di Indonesia. Pemerintah Kota Surabaya kini mengemas sejarah kemenangan atas Mongol dalam bentuk narasi digital dan festival yang modern.
Beberapa agenda menarik di tahun 2026 meliputi:
- Surabaya Vaganza: Pawai bunga dan budaya yang rutenya melewati pusat kota, menampilkan diorama bergerak tentang pertempuran tahun 1293.
- Festival Kalimas: Pertunjukan seni di sepanjang sungai Kalimas dengan teknologi video mapping yang menceritakan detik-detik pengusiran pasukan Mongol.
- Pasar Malam Tjap Toendjoengan: Pusat kuliner legendaris yang menghadirkan suasana Surabaya tempo dulu, sebagai penghormatan terhadap kekayaan budaya lokal.
Nilai-Nilai Kepahlawanan untuk Generasi Masa Kini
Mempelajari sejarah 31 Mei bukan sekadar nostalgia. Ada pelajaran penting bagi generasi milenial dan Gen Z di Surabaya:
- Kecerdikan Strategi: Raden Wijaya mengajarkan bahwa kekuatan fisik bukan satu-satunya jalan menuju kemenangan; strategi dan diplomasi jauh lebih menentukan.
- Persatuan: Tanpa dukungan rakyat dan kesiapan pasukan lokal, mustahil mengalahkan militer sekuat Mongol.
- Kedaulatan: Surabaya lahir dari keinginan kuat untuk tidak dijajah oleh bangsa asing mana pun.
Penutup: Menatap Masa Depan dengan Fondasi Sejarah
Surabaya di tahun 2026 adalah kota metropolis yang cerdas (smart city), namun hatinya tetap berpijak pada nilai-nilai yang diletakkan para pendahulunya di tepi sungai Kalimas berabad-abad silam. Hari Jadi Surabaya 31 Mei adalah pengingat tahunan bahwa kota ini dibangun dari darah, keringat, dan kecerdasan para pahlawan yang menolak untuk tunduk pada intimidasi kekuatan global.
Setiap kali Anda melintasi Jembatan Merah atau melihat aliran Kalimas, ingatlah bahwa di bawah kaki Anda, sebuah sejarah besar pernah dituliskan. Selamat merayakan Hari Jadi Surabaya! Mari terus jaga semangat “Wani” untuk membangun kota yang lebih maju dan bermartabat.
